Halo!
Tentu kamu masih ingat dengan ajang seru kreatif yang diadakan oleh Telkomsel pada tanggal 24 Mei yang lalu bukan? Beruntung, kota Palu menjadi salah satu kota yang dijamah oleh ajang kreatif bergengsi satu ini.
Nah, kali ini kita akan berbagi info-info menarik seputar kegiatan di acara LOOP KEPO ya. Siap untuk menyimak? Yuk, kencang kan sabuk pengamanmu sebelum kita meluncur.
Di samping mengadakan kegiatan workshop, dan hiburan di LOOP KEPO juga diramaikan oleh anak-anak dari Milanisti Palu, Anime lovers custom cosplay, dancer & B-Boy, pecinta fotografi instanusantara dan sejumlah anak muda hipster dan gaul kota tentunya.
Dengan mentor yang keren dan seru pastinya, yaitu; Pandji Pragiwaksono di bagian digital writing, Sacha Stevenson di bagian digital video dan GAC "Gamaliel Audrey Cantika" di bagian digital music.
Acara LOOP KEPO dimentori oleh enam orang mentor yang luar biasa. Selain ketiga orang di atas yang merupakan jatah kota kita, ada pula Arief Muhammad "Poconggg" di bagian Digital Writing, Raditya Dika di bagian Digital Video dan Ran di Digital music.
Nah, yuk kita simak ada apa saja sih yang kamu dapat dari kegiatan workshop itu. Yuuuuuk~
DIGITAL WRITING PROJECT with PANDJI PRAGIWAKSONO
Bagaimana sih cara menjadi penulis kreatif?
Pandji berbagi kisah kala itu. Di ruangan yang berukuran tak besar, digandrungi oleh sekian banyak anak-anak muda yang gelut di bidang tulis menulis dan para KOMIK, Ia berbagi kisah tentang perjalanannya sebagai seorang penulis yang multitalenta.
Tak hanya bisa berkarya lewat tulisan, Pandji juga lihat dalam berkarya melalui media video, musik, dan desain komik. Ayah dari Dipo ini punya warna sendiri dalam mengekspresikan karyanya, di mana Ia tidak mengesampingkan Indonesia yang melekat pada dirinya sebagai warga negara tanah air.
Ia menulis, lalu mempublikasikannya melalui media digital dan dengan langkah awal memberikan ebook secara gratis kepada konsumen.
Dibalut dengan usaha keras promosi, dan juga pemberitahuan ke sana sini, akhirnya usahanya membuahkan hasil. Buku NATIONAL IS ME terjual 12 sampai 15 ribu ebook dalam jangka waktu sebulan. Waaaah... Tahukah resep rahasianya apa?
"Semangat berbagi adalah yang utama.." Ucapnya kala itu.
Banyak orang menulis dengan tujuan masing-masing. Di samping menghasilkan karya, ada pula yang ingin kaya dari penghasilan karyanya. Akan tetapi, bagi Pandji Ia lebih mengedepankan berbagi dalam karyanya. Prinsipnya adalah; berbagi hari ini, menuai di kemudian hari.
Terbukti, dari besarnya antusias peminat buku yang Ia tulis menarik penerbit bentang pustaka untuk memberikan tawaran mencetak buku Pandji. Dan tahukah apa kata Bang Pandji?
"Jangan takut berbagi karena takut miskin dan tak menghasilkan apa pun. Berkaryalah! Dan buatlah penerbit yang menemukanmu...."
INDIEPRENEUR adalah buku yang bercerita tentang usaha yang dibuat secara individual dengan memanfaatkan bakat dan mengolahnya bersama kreasi dalam kreativitas.
H2O adalah majalah komik yang diterbitkan secara digital untuk menyalurkan bakatnya dalam mendesain dan membuat komik. H2O ini terinspirasi dari kisah Ramayana versi kekinian (red: masa kini).
Dalam dunia musik, Ia memadukannya dengan tulisannya sehingga membentuk sepaket karya. Dimulai di tahun 2008, dengan mengangkat konsep seputar politik, semangat kebangsaan, dan kehidupan pribadi (red: keseharian). Dan tepat di tahun 2010, album MERDESA - dalam waktu 10 hari berhasil meraup keuntungan sebesar 100 juta.
Tentu banyak yang menyanjungnya karena usaha kerasnya yang luar biasa. Akan Tetapi, Pandji berpesan kepada kita, melalui pesan yang selalu Ia ingat ketika dituturkan ayahnya tempo hari, "Jangan pernah merasa sampai, karena nanti kamu akan berhenti.." Dan Pandji mengakui bahwa Ia masih ingin bergerak maju dan masih banyak hal yang ingin Ia lakukan dan ingin Ia capai.
Lantas, bagaimana cara menyebar daya tarik yang kuat dalam diri untuk berkomitmen dan tetap menjadi produktif dalam menggapai impian dan membuat karya itu?
SEDIKIT LEBIH BEDA, LEBIH BAIK DARIPADA SEDIKIT LEBIH BAIK.
Terkadang, kita bertanya kenapa sih naskah kita sering ditolak atau bagaimana sih menghasilkan sebuah karya yang baik? Hal ini berkecamuk, membuat kita dilema. Pikiran kita yang terantuk ingin menghasilkan karya yang luar biasa membuat kita melukis sekat yang tanpa sadar memulai titik hambata kita untuk melakukan sesuatu.
Padahal, kita bisa memulai. Dengan cara membuat sesuatu yang tidak biasa, tidak mempunyai kesamaan dengan cerita yang sudah-sudah, atau merangkai tulisan/karya yang berbeda dari yang telah ada.
Menjadi berbeda adalah menjadi diri sendiri.
Kita mungkin banyak berkelana menjelajah satu buku ke buku lain untuk mendapatkan inspirasi dan menggali kemampuan cakap dalam kata. Dan tanpa sadar, kita sering terpengaruh dari para penulis yang sudah ada. Tahukah kita, bahwa memulai sesuatu yang berbeda dengan bekal dari kemampuan diri sendiri akan melahirkan identitas diri dan ciri khas kita di khalayak orang banyak penikmat karya?
Kita sering sekali, bermasalah karena kita takut jelek, dan takut salah. Padahal karena sesuatu yang kita takuti itulah kita banyak merajut ilmu untuk belajar akan banyak hal baru yang membimbing kita menjadi lebih baik.
Pandji menjelaskan bahwa Raditya Dika pernah mengatakan, kalau membaca atau mempelajari sesuatu kita bisa mengambil dari hasil karya orang lain tersebut. Tetapi, dari hasil karya itu, janganlah mengikutinya, Tetapi merenovasinya menjadi sesuatu yang baru yang menjadikan identitas untuk diri kita yang baru.
Kunci sukses tidak hanya didapat dari ilmu yang sudah ada. Tetapi sukses juga membutuhkan pelajaran melalui ilmu yang didapat dari orang lain.
"MULAI AJA DULU!"
Tentu saja, semua impian kita, cita-cita kita atau apa pun tidak akan terwujud secara nyata bila kita hanya terus-terusan tenggelam dalam kata-kata tanpa memberikan aksi.
Patri dalam hati, "Kalau saya tidak mulai sekarang, kapan saya selesai? Kalau saya tidak mulai sekarang, yakin ide saya tidak akan direbut orang? Kalau saya tidak mulai sekarang, akankah mimpi saya terwujud?"
KUNCI DARI BERKARYA ADALAH BERTUMBUH
Jangan pernah takut karya kamu jelek. Yang penting adalah kamu mau memulai dan akhirnya karya kamu ada. Karya pertama gak selalu harus luar biasa.
Ya, karena kunci dari berkarya adalah bertumbuh. Mau jelek atau kurang bagus itu bukanlah menjadi penghalang kamu untuk merendahkan diri dan tidak merasa pantas.
Banyak orang yang suka mencemooh, seperti; "Apa sih? Karya apa itu? Pikirnya bagus? Jelek banget!"
Padahal dari karya kita yang jelek atau karya kita yang gagal kita belajar untuk menghasilkan/mengolah karya tersebut menjadi lebih baik.
Teruslah memandang ke depan sekalipun orang-orang sering mencibir yang macam-macam. Mereka yang gak suka sesungguhnya adalah mereka yang selalu memperhatikanmu. Kenapa? Tentu mereka tahu banyak hal tentangmu sampai repot-repot mencari celah untuk dikritik habis-habiskan. Iya gak?
Yakinlah bahwa sukses itu selalu butuh proses. Seperti Pandji yang terus percaya bahwa selalu ada jalan untuk melangkah maju sekalipun kau merasa takut dan tak mampu. Karena keinginan buat sukses lebih besar daripada ketertakutan akan gagal, maka Ia membuktikan bahwa dirinya bisa.
"Hidup yang terlalu Instan, membuat dia (red: orang yang suka mencari kejelekan orang lain) tidak mengerti proses.
"BALAS DENGAN KARYA. SUPAYA KELIHATAN YANG BISA CUMAN NGOMONG DOANG!"
BANYAK MENULIS = BANYAK MEMBACA
Jangan pernah merasa jago dalam menulis kalau kamu lemah membaca. Menulis itu rumusnya tak lekang dari membaca.
Bila kau menulis 3 jam dalam sehari, maka pastikan kau membaca 6 jam dalam sehari.
Ibarat cinta, laki-laki dan perempuan saring berketergantungan. Begitu pun menulis dan membaca. Mereka tak terpisahkan.
Untuk menghasilkan karya tulis yang bagus, jelajahi aneka tulisan dari beragam penulis dengan genre yang macam-macam. Yakinlah, dari hasil karya tulis orang lain membangun dirimu untuk menciptakan karya baru yang orisinal khas milikmu sendiri.
Karena membaca, melatihmu untuk menemukan jati dirimu yang sebenarnya di dalam karya yang akan kamu ciptakan.
DISIPLIN TIDAK MENGEKANG, JUSTRU MEMBEBASKAN
Jadikan deadline bukan sebagai sesuatu yang mengekang, melainkan deadline sebagai sebuah kebiasaan/pola hidup. Sehingga ketika mendekati waktunya, kita tidak merasa terhimpit. Melainkan, merasa bahwa deadline adalah sesuatu yang kita nantikan.
Banyak penulis yang menjadikan deadline sebagai teman mereka. Hasilnya, karya mereka ada, selesai dan dalam tenggat waktu sesuai target. Walau pun kadang ada juga yang lebih seminggu atau beberapa hari.
Nyatanya, waktu yang produktif itu harus dijadikan komitmen hidup. Dilakukan dalam kesenangan dan bukan dijadikan beban.
Raditya Dika, Dewi Lestari, dan sederet orang yang berhasil lainnya, tentu tidak berusaha secara instan. Butuh waktu hingga masa kejayaan mereka mencapai puncaknya. Hasilnya, mereka terkenal hari ini karena mereka produktif dan disiplin terhadap waktu yang mereka senangi untuk bergelut dengan karya mereka di tempo dulu.
Sebanding, kan?
--------------------------------------------
[ NK- diksigalery ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar