Senin, 22 Juni 2015

#ShoutYouth edisi 3 is out!!!





Berbicara tentang masalah perjalanan kita menuju masa depan, sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tentu kita paham bahwa letaknya ada pada dua tempat yaitu, mimpi besar dan kecil. Seiring dengan berkembangnya usia, diri kita pun mengalami perkembangan dalam hal pola pikir yang akhirnya membentuk kita menjadi lebih dewasa dan bijak.

Sadarkah kita, bahwa pendewasaan diri itu terjadi secara bertahap dan perlahan-lahan. Kita mulai mempelajari tentang apa saja yang terjadi dengan belajar mengambil hikmah tanpa membiarkan banyak hal berlalu begitu saja tanpa pelajaran. “Kita belajar dari apa pun demi masa depan.” Terdengar biasa saja, namun kunci dari tema yang kita angkat adalah untuk memberikan semangat yang besar kepada siapa pun dan di mana pun agar senantiasa selalu berjuang bagaimana pun kerasnya dunia mencoba untuk menggugurkanmu.

Pernahkah kalian mendengar, bahwa “Segala kejadian dalam hidup, membuat seseorang menjadi lebih kuat?” Kita tidak pernah tahu kapan orang berubah karena hati dan sifat mereka ibarat cuaca, yang tidak menentu. Atau kita tidak pernah bisa menebak dengan pasti, tegas dan jelas, tentang bagaimana kepribadian seseorang itu secara harfiah.

Sering kita jumpai, banyak orang yang mencibir orang lain yang ketika melalui media sosial mungkin atau ketika chat justru lebih cerewet ketimbang aslinya. Seperti muncul sindiran, “Hanya berani ngomong doang! Nyatanya? Dia gak lebih dari seseorang yang gak tahu apa-apa.”

Lucu. Tetapi sedikit mengiris. Apakah kita sadar bahwa terkadang kita bisa saja melukai perasaan orang lain yang nyatanya tidak pernah melukai hati kita? Hanya karena hal semacam itu, yang secara garis besar sebenarnya tidak begitu berpengaruh terhadap diri kita dan hidup kita. Secara tidak langsung, ketika kita mencibir mereka, terlihat jelas bahwa kita takut orang-orang semacam mereka mengungguli diri kita. Manusia, tidak sadar ucapan mereka biasanya sedikit terbawa kesombongan.

Nyatanya, pernahkah kita menyimak tentang introvert dan ekstrovert? Dunia terlalu kejam menghakimi orang-orang introvert dan merasa orang-orang ekstrovert lebih baik di atas segalanya. Padahal, kita sudah cukup dewasa untuk memahami orang lain. Salah satunya adalah tentang hak berbicara. Tidak semua orang bisa kita paksa untuk menjadi seperti diri kita.

Si A mungkin lebih banyak bercerita melalui media sosial lewat berbagai huruf, tulisan dan kata. Tetapi begitu dijumpai, dia lebih banyak diam dan menutup diri. Apa yang kita tahu tentang si A, selain namanya dan rupa wujudnya? Apakah kita pernah belajar untuk tahu sekiranya mungkin saja tentang latar belakangnya atau mungkin saja kejadian yang membuat seseorang menutup diri? Atau mungkin dia mengidap trauma?
Semakin tinggi seseorang menanjak, semakin ia merasa dirinya adalah sesuatu yang lebih di atas segalanya. Pernah kita melihat beberapa orang-orang sosial yang nyatanya hobi membantu di mana-mana kepada mereka-mereka yang membutuhkan bantuan. Betapa mulianya. Namun, seketika image mereka rapuh begitu saja, hanya karena mereka berubah menjadi orang yang berbeda yang mengetawakan orang lain. Tahukah? Apakah orang sosial memang semacam itu? Sosial berarti kebaikan dan kebaikan bukan berarti menyakiti hati orang lain.

Kita mungkin tidak sadar kalau sesungguhnya setiap orang punya sisi introvert dan ekstrovert dalam jumlah kadar yang berbeda-beda. Hanya karena orang-orang introvert tidak banyak bicara lantas dunia selalu menghakimi mereka, dengan mengatakan mereka adalah orang yang tidak bisa bicara. Nyatanya, tanpa sadar, justru dunia banyak mencetak banyak orang-orang introvert yang hebat. Kita pun tidak pernah sadar pernah dibantu oleh mereka atau bahkan pernah bergantung pada mereka. Ya, apalah gunanya tolong-menolong. Hanya karena mereka tak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tak seperti diri kita, semuanya sirna begitu saja.

Introvert adalah karakter atau kepribadian yang lebih bersifat individu di mana orang tersebut lebih tertutup atau pendiam. Berbeda halnya dengan para ekstrovert yang menyukai keramaian, para introvert lebih sering disebut sebagai seorang pemalu dan penyendiri. Padahal persepsi itu sebenarnya tidaklah benar. Ahli kepribadian mengungkapkan bahwa introvert dan ekstrovert adalah sama, hanya saja introvert tidak suka banyak bicara dan sering membutuhkan waktunya sendiri. Mereka lebih jelas dalam berbuat ketimbang berbicara tanpa tindakan.

COURTENEY COX
Artis wanita yang terkenal yang juga berprofesi sebagai produser, dan direktur asal Amerika yang terkenal berkat aktingnya di film-film seperti Gale Wearhers, Friends, dan Scream. Yang bercerai dengan suaminya David Arquitte, karena sifatnya yang introvert dan bertolak belakang dengan kepribadian suaminya. Ketika suamiya suka bersenang-senang dan bepergian, justru Cox lebih senang untuk berdiam diri, menhabiskan waktunya di rumah.

LAURA BUSH
Merupakan istri dari presiden Amerika ke-43. Ia adalah seorang introvert. Laura Bush merupakan salah satu contoh bahwa seorang introvert tidak selalu berarti pemalu. Ketika dirinya harus menucapkan pidatonya, para media terkesan karena ia mampu berbicara dengan sangat efektif.

MAHATMA GANDHI
Pemimpin nasionalisme India yang membawa kemerdekaan India serta menjadi inspirasi dari pergerakan hal dan kebebasan sipil di seluruh dunia. Gandhi menjadi contoh, bahwa tidak perlu menjadi seorang ekstrovert untuk bisa memimpin orang-orang. Gandhi pernah mengatakan, “Dengan cara yang lembut, anda dapat menggoyahkan dunia.”

CHRISTINA  AGUILERA
Christina Maria Aguilera atau singkatnya Christina Aguilera mungkin seorang bintang pop, produser lagu, penulis lagu dan artis yang terlihat sebagai seorang ekstrovert di panggung, tapi pada kehidupan nyatanya ia benar-benar berlawanan. Keberhasilannya di dunia dengan menjadi salah satu bintang yang masuk dalam daftar panjang artis terbaik Hollywood.

WARREN BUFFET
Warren Edward Buffett, adalah investor, triliuner dan dermawan asal Amerika yang kekayaanya pada tahun 2013 masuk sebagai orang ke-4 terkaya di dunia. Bagi Anda yang tidak tahu, Warren Buffett mendapatkan kekayaan dari kepemilikan saham dan jabatannya di Berkshire Hathaway. Berkshire Hathaway sendiri adalah perusahaan konglomerat multionasional yang berjalan dalam bidang investasi dan ansuransi, dimana beberapa investasinya ada di IBM, coca-cola, American Express dan banyak lainnya.

Warren Buffet sendiri dideskripsikan sebagai seseorang yang penuh dengan karakter introvert, hanya saja ia mampu memanfaatkan karakternya ini dengan sangat baik melalui ketekunan, pemikiran bijaksana dan tahu kapan ia harus bertindak. Kepribadian introvert inilah yang menjadi kelebihannya, di saat orang lain tidak dapat berpikir jernih, ia selalu berpikir dengan hati-hati.
Buffet sendiri mengatakan:
"untuk menjadi sukses dalam investasi, tidak ada hubungan dengan IQ, yang diperlukan adalah kepintaran umum dengan temperamen yang baik untuk mengaturnya.”

BILL GATES
Seorang penulis dan ahli kepribadian introvert, Susan Cain, mendeskripsikan co-founder dan chairman Microsoft, yakni Bill Gates ini sebagai seseorang yang introvert. Ia mengatakan seberapa tinggipun Bill Gates mengasah kemampuan sosialnya, ia tidak pernah akan menjadi Bill Clinton (politikus dan presiden Amerika ke-42) dan berlaku sebaliknya seberapa jauhpun Bill Clinton mengasah kemampuan komputernya, ia tidak pernah akan menjadi Bill Gates. Walaupun begitu, Bill Gates dapat menjadi orang terkaya ke-2 di dunia pada tahun 2013 ini.

Ia juga mengatakan bahwa Bill Gates adalah contoh seseorang yang introvert tapi bukanlah pemalu. Ia hanyalah seseorang yang tidak banyak berbicara dan suka membaca, tapi juga kokoh dengan kepribadiannya. Ia merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana seorang introvert dapat mencapai kesuksesan yang luar biasa. Jika kita menyebut nama Microsoft maka Bill Gates dapat disebut sebagai lambang dari Microsoft.

Kepribadian seseorang tidak dapat kita pelajari sekilas. Mereka adalah orang-orang sukses yang mengubah hidup mereka dari sesuatu yang keras menjadi lebih baik. Bila kita simak dengan baik, kita akan mengerti, bahwa kepribadian seseorang itu kuat dari perjalanan hidup yang mereka alami. Entah mereka mau jadi pendiam atau yang cerewet sekali pun bukanlah hak kita untuk memaksa mereka menjadi orang lain kecuali menjadi diri sendiri. Karena setiap orang berjuang untuk hidup mereka masing-masing dan perjalanan itu menuju impian dan hidup yang lebih baik di masa depan.

NK


Tidak ada komentar:

Posting Komentar